Jumenengnya Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon (Bagian 2) : Penyematan Keris Pusaka SGJ

Prosesi pengukuhan Sultan-sultan memang bukan satu hal yang biasa. Setidaknya, 30 sampai 50 tahun sekali barangkali satu Sultan diangkat setelah wafatnya sultan sepuh sebelumnya. Demikian juga acara Jumenengnya Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan yang saat ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya Sultan Sepuh XIII. Acara yang dihadiri oleh berbagai kalangan ini menjadi prosesi budaya yang langka. Makanya banyak wartawan media cetak dan televisi yang meliput acara Jumenengnya Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan ini dengan antusias. Setelah penyambutan tamu (lihat bagian 1), acara kemudian dilanjutkan ke bangsal utama tempat dimana Sultan-sultan Kasepuhan dulu menyambut tamu atau kawulanya.

Acara jumenengan dilakukan pertama kali dengan penyematan Keris pusaka warisan Sunan Gunung Jati, kemudian dilanjutkan dengan pidato pengukuhan. Setelah itu, dilakukan  pelepasan 14 burung merpati sebagai simbol perdamaian dan penanaman 14 pohon Dewandaru yang langka sebagai simbol penghijauan kembali bumi guna mengantisipasi Global Warming. Sebelumnya telah dilakukan khitanan masal untuk 14 anak yatim piatu sebagai simbol untuk kepedulian atas anak-anak yatim dan fakir miskin.

Upacara yang termasuk bersahaja ini merupakan ungkapan lebih nyata dari kearifan lokal warisan Sunan Gunung Jati yang akan tetap dijadikan panutan bagi Sultan Sepuh XIV PRA Arif Natadiningrat untuk melanjutkan kepemimpinannya sebagai Sultan, pemangku adat dan budaya Nusantara. Warisan yang dimaksud adalah pepatah yang sudah dikenal dan mudah ditemukan di beberapa sudut kota Cirebon yaitu – Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin. Ungkapan sederhana ini mempunyai dimensi vertikal dan horisontal yang mencakup hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah SWT yang merupakan butir-butir hikmah Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu bagi Umat Islam.

Warisan yang luhur ini tentunya tidak mudah diimplementasikan. Namun menurut Sultan Sepuh XIV , kearifan lokal tersebut masih relevan diterapkan dari zaman ke zaman dan ternyata mampu menjawab semua persoalan yang ada saat ini. Penanaman pohon selain menjawab tantangan lokal yang berhubungan dengan ekseimbangan alam juga berhubungan dengan isu lingkungan global semisal Global Warming. Demikian juga, simbol pelepasan 14 burung merpati sebagai harapan terciptanya perdamaian dunia bersentuhan dengan isu lokal maupun global, semisal masalah Pembebasan Palestina dan Perdamaian di Gaza.

Acara ini dihadiri oleh 14 Raja-raja Nusantara seperti Kerajaan Kutai Kertanegara dari Kalimantan, Sultan Yogya, Raja Denpasar IX,  dll. Selain itu hadir pula pejabat sipil dan militer pemerintah seperti misalnya yang mencolok tentu saja Dede Yusuf yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Berikut ini foto-foto acara Jumenengnya Sultan Sepuh XIV yang berlangsung  tanggal 9/6/2010 kemarin.

Dokumentasi : Kasepuhan.Com , foto : atmnd

Tinggalkan sebuah komentar