Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon : Bahasa Atau Dialek?


Selain bahasa Sunda, Jawa Barat (Jabar) memiliki dua bahasa daerah
lain yang hingga saat ini masih dipelihara oleh penuturnya. Kedua
bahasa tersebut adalah bahasa Melayu Betawi (penutur dekat dengan
Jakarta seperti Bekasi dan Depok) dan bahasa Cirebon (di
Kota/Kabupaten Cirebon). Ketiga bahasa daerah itu diakui Pemerintah
Provinsi Jabar melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2003.

Namun, seiring perkembangan dan penelitian bahasa, diketahui bahwa
Cirebon bukanlah bahasa. Pusat Bahasa menyatakan, bahasa Cirebon
”hanyalah” salah satu dialek dari bahasa Jawa.

Secara nasional, temuan itu resmi disosialisasikan saat peringatan
Hari Bahasa Ibu, 19-20 Februari 2010 di Gedung Merdeka Bandung. Pusat
Bahasa menyimpulkan, secara linguistik, Jawa Barat dan Banten memiliki
tiga bahasa yaitu bahasa Sunda, bahasa Melayu Betawi, dan bahasa Jawa.
**

Terungkapnya Cirebon sebagai dialek diketahui setelah Pusat Bahasa —
melalui Balai Bahasa Bandung — meneliti kekerabatan bahasa Cirebon
dengan bahasa Jawa. Bahasa Jawa dipilih karena kedekatannya dengan
bahasa Cirebon, baik dari sisi geografis maupun kemiripan bahasa.

Ada tiga dialek bahasa Jawa yang dibandingkan dengan bahasa Cirebon
yaitu dialek daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
Jawa Timur.

Kepala Balai Bahasa Bandung Muh. Abdul Khak mengungkapkan, penelitian
menggunakan sekitar 2.400 kuesioner sebagai indikator pembanding
seperti kosa kata anggota tubuh dan budaya dasar (makan, minum, dan
sebagainya).

Penelitian itu berlandaskan metode Guiter. Metode tersebut dinilai
sebagai metode standar internasional yang juga digunakan di belahan
dunia lain, seperti Eropa.

Hasil akhir penelitian menunjukkan perbedaan kosa kata bahasa Cirebon
dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta hanya
mencapai 75 persen. Sementara itu, persentase perbedaannya dengan
dialek di Jawa Timur adalah 76%. Itu artinya, Cirebon masih merupakan
salah satu dialek bahasa Jawa. Soalnya, Guiter menetapkan untuk
menjadi bahasa, perbedaannya haruslah minimal delapan puluh persen
dengan bahasa terdekatnya.
**

Sebenarnya, penentuan bahasa Cirebon bukan sebagai bahasa bisa
diketahui secara mudah. Seperti yang diungkapkan Muh. Abdul Khak, jika
dua penutur berkomunikasi dan tidak bisa saling mengerti, itu adalah
dua bahasa yang berbeda.

Contoh mudahnya adalah penutur bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Ketika
berbicara dengan menggunakan bahasa masing-masing, mereka tidak akan
mengerti satu sama lain karena keduanya memang menggunakan dua bahasa
berbeda. Namun, ketika orang Garut dan Cianjur berinteraksi dan masih
saling memahami, itu artinya keduanya adalah dialek. Lebih tepatnya
dua dialek dari bahasa Sunda.

Jika diterapkan dalam kasus Cirebon, ketika penutur bahasa Jawa
berkomunikasi dengan penutur bahasa Cirebon, keduanya relatif saling
mengerti meskipun tetap ada kosa kata yang tidak sama. Sebagai
contoh, pertanyaan [bagaimana kabarnya/apa kabar], dalam bahasa Jawa
adalah [piye/kepriye kabare]. Sedangkan dalam dialek Cirebon menjadi
[kepriben kabare]. Keduanya masih bisa dipahami meskipun terdapat kosa
kata yang tidak sama, yaitu [kepriye] dan [kepriben].
**

Meski hasil penelitian menunjukkan demikian, tak lantas Cirebon diakui
sebagai dialek, khususnya oleh para penuturnya. Hingga saat ini, di
mata para tokoh dan masyarakat Cirebon, bahasa mereka tetaplah bahasa,
bukan dialek.

Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon sekaligus penyusun Kamus Bahasa
Cirebon Nurdin M. Noer mengatakan, bahasa Cirebon sejatinya adalah
persilangan antara bahasa Sunda dan Jawa.

Hal itu wajar karena secara geografis Cirebon adalah perbatasan Jawa
Barat dan Jawa Tengah. Nurdin menegaskan, dalam perkembangannya, kosa
kata bahasa Cirebon banyak yang berbeda dengan kedua bahasa tersebut.
Sebagai contoh, kata [saya] di Sunda adalah [abi/abdi], di Jawa
[kula/dalem], tetapi di Cirebon [isun].

Sejauh ini, menurut Nurdin, dari sekitar sepuluh ribu kosa kata bahasa
Cirebon yang telah disusun dalam kamus, 40 persen merupakan pengaruh
bahasa Jawa, 40 persen pengaruh bahasa Sunda, dan 20 persen dari
bahasa lain seperti Arab dan Cina.

”Ketika ada yang mengatakan bahwa bahasa Cirebon bukanlah bahasa, itu
adalah pendapat. Karena, pada perkembangannya, bahasa Cirebon berbeda
dengan kedua bahasa itu,” katanya.

Selain kosa kata yang sudah banyak berbeda dengan Sunda dan Jawa,
masyarakat Cirebon juga menilai karya sastra Cirebon masih produktif.
Itu merupakan bukti bahasa Cirebon masih dipelihara dan dikembangkan.
”Masih dipelihara, dikembangkan, dan dihasilkannya karya sastra adalah
ciri-ciri bahasa,” ujarnya.
**

Pertentangan pendapat dari penutur, menurut pakar linguistik
Universitas Pendidikan Indonesia Chaedar Al Wasilah merupakan
persoalan sosiologi-psikologi bahasa. Emosional penutur tidak bisa
dipaksakan untuk menerima hasil penelitian meskipun, menurut Chaedar,
secara linguistik, Cirebon sebagai dialek sudah bisa dibuktikan.

Dari sisi metode pun, kata dia, Guiter merupakan metode standar
internasional. ”Kalau memang pada kenyataannya penutur begitu kuat
mempertahankannya sebagai bahasa, itu tidak masalah. Bisa jadi bahasa
Cirebon sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi penuturnya dan itu
adalah hak mereka,” katanya. (Amaliya/”PR”) ***

Sumber Tulisan : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=132798

Tinggalkan sebuah komentar