Tradisi Grebeg Mulud di Cirebon

Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, keraton-keraton di Jawa, seperti di Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta mengadakan acara keramaian. Di Cirebon disebut Muludan atau Grebeg Mulud (keramaian menyongsong Maulid Nabi), sedangkan di Yogyakarta dan Surakarta disebut Sekatenan.

Tradisi grebeg mulud di Kasultanan Kasepuhan Cirebon telah dilaksanakan satu bulan penuh dimulai dari tanggal 1 November 2017 sampai dengan 1 Desember 2017.

Ritual tradisi dan budaya grebeg Mulud di Kasultanan Kasepuhan Cirebon bak Magnet yang menarik para masyarakat lokal maupun internasional, mereka datang berbondong-bondong dengan berbagai macam tujuan diantaranya adalah sekedar ingin mengetahui prosesi ritual budaya grebeg mulud, atau mencari berkah karena prosesi ini dilakukan hanya 1 tahun satu kali.

Pada gelaran Grebeg Mulud juga keraton dan Pemda Kota Cirebon mempersilahkan masyarakat untuk membuka semacam pasar rakyat semua rakyat boleh hadir dan berjualan. Grebeg mulud selain berkah juga menjadi wahana dan sarana peningkatan ekonomi. Karena itu acara ini sering disebut “Muludan” atau “Sekatenan” kalau di Jawa tengah, dimana rakyat dari berbagai wilayah Kota Cirebon tumpah ruah menikmati keramaian pasar Muludan yang digelar di seputar lapangan Keraton Kanoman, Kasepuhan, Kaceribonan dan wilayah sekitarnya.

Sebelum zaman Dunia Fantasi Ancol di pasar Muludan inilah masyarakat menikmati komidi putar, tong setan, ontang anting , kora-kora, ombak banyu dan sarana hiburan sirkus pasar lainnya.

Tong Setan, The Devil’s Barrel, ilustrasi
Pedagang di Muludan Cirebon
Ombak Banyu di Muludan Trusmi Cirebon, ilustrasi
kora-kora perahu Muludan
Perahu otok-otok, mainan favorit anak-anak yang tetap eksis di Muludan 2017

Pasar rakyat muludan selalu identik juga dengan para pedagang mulai dari pakaian, keperluan rumah tangga, kuliner, pedagang mainan jadul yaitu kapal otok-otok, dan sampai dengan permainan rakyat.

Sultan Sepuh XIV, PRA. Arief Natadiningrat mengatakan, kegiatan pasar rakyat berlangsung sejak tanggal 1 November hingga 1 Desember 2017.

“Selain pasar rakayat, tradisi gerebeg Mulud di Kasultanan Kasepuhan Cirebon tahun ini pada tanggal 25 November akan diadakan Siraman Panjang di Kaputren dan Buka Bekasem Ikan,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Sultan, tanggal 25 sampai 30 November akan berlangsung Festival Hadroh di Bangsal Pagelaran. Dan mulai tanggal 25 November sampai 1 Desember, Keraton dan Museum kembali dibuka untuk umum dari jam 08.00 sampai 22.00 WIB.

P.R.A Arief Natadiningrat S.E sebagai Sultan Kasepuhan Cirebon selalu memberikan amanat kepada masyarakat untuk selalu menjaga nilai-nilai budaya dan sejarah Indonesia salah satunya dengan menjaga dan melestarikan tradisi muludan.

Berikut adalah rangkaian acara lengkap grebeg mulud pada tahun 2017;

  •  1 Oktober mulai pembuatan ukup dari akan dan kayu wangi untuk pengharum ruangan
  • 27 Oktober pembuatan bekasem ikan didalam guci yang akan dimaskak didapur mulud untuk nasi Jimat
  • 1 November pedagang UMKM memeriahkan maulidan di alun-alun Kerton selama 1 bulan penuh
  • 25 November jam 08 WIB, acara siraman panjang di kaputren dan jam 09.00 WIB buka bekasem ikan
  • 25 – 30 November Festival Hadroh di bangsa pagelaran jam 15.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB, Berzikir dan Berdosa serta Bersholawat
  • 25 November -1 Desember keraton dan museum dibuka untuk umum jam 08.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB
  • Tradisi Caos Hatur Bakti, Bersilaturahmi dan bersalaman di Pungkuran Bangsal jam 08.00 SD 16.00 WIB
  • 1 Desember jam 19.00 SD 24.00 Upacara pajang jimat di Bangsa Prabayaksa dan Asrakalan di Langgar Agung dengan bersholawat dan membacakan Kitab Barzanzi sejarah Nabi Muhammad SAW

Itulah rangkaian acara penting selama Muludan di Keraton Kasepuhan Cirebon, silahkan hadir agar kita lebih mengenal sejarah dan menanamkan nilai-nilai Islam dengan menggemakan Sholawat Nabi.

Tradisi Grebeg Mulud

Tinggalkan sebuah komentar